
Di tengah rimbunnya alam Cinagara, Pesantren Daarul Quran Takhassus tidak hanya menjadi kawah candradimuka bagi para calon penjaga ayat suci. Di sini, lantunan hafalan Al-Qur’an berjalan beriringan dengan pelestarian akar budaya bangsa. Melalui berbagai kegiatan kreatif, santri dididik untuk mencintai tanah air melalui pendidikan seni dan budaya yang inklusif dan religius.

Mengasah Kreativitas, Merawat Identitas
Potret peringatan HUT RI ke-76 di lingkungan pesantren menunjukkan bahwa santri adalah elemen bangsa yang sangat menghargai sejarah. Penggunaan atribut seni seperti sayap bermotif batik, ikat kepala tradisional, hingga kostum karnaval buatan tangan menjadi bukti nyata bahwa kreativitas santri tidak terbatas pada dinding kelas.
Pendidikan seni di Pesantren Daarul Quran Takhassus Cinagara difokuskan pada:
- Apresiasi Budaya: Mengenalkan kekayaan motif Nusantara (seperti batik dan pakaian adat) sebagai identitas diri.
- Kreativitas Berbasis Nilai: Memanfaatkan bahan-bahan di sekitar untuk menciptakan karya seni yang digunakan dalam momen-momen kebangsaan.
- Penyaluran Bakat: Memberikan ruang bagi santri untuk berekspresi secara positif, sehingga kecerdasan spiritual mereka seimbang dengan kecerdasan kinestetik dan seni.
Santri Modern yang Berwawasan Budaya
Dengan memadukan nilai-nilai pesantren dan kearifan lokal, Pesantren Daarul Quran Takhassus Cinagara berhasil mendobrak stigma bahwa santri hanya fokus pada teks keagamaan. Di sini, seni dipandang sebagai instrumen dakwah dan sarana mempererat persaudaraan.
Melalui perayaan yang penuh warna dan atribut budaya, para santri belajar bahwa menjadi seorang hafiz (penghafal Al-Qur’an) berarti siap menjadi pemimpin yang memahami keberagaman dan keindahan budaya Indonesia. Semangat ini adalah wujud nyata dari semboyan “Hubbul Wathon Minal Iman”—mencintai tanah air adalah bagian dari iman.


